Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (2023)

Koropak.co.id - Hingga kini nama Ida Dayak dan keahlian dalam menyembuhkan pasien menjadi perbincangan hangat publik di media sosial. Bagaimana tidak, dalam beberapa video yang beredar di media sosial, Ida Dayak kerap dikerumuni oleh banyak pasien.

Bahkan, sosoknya pun dianggap memiliki kemampuan dalam memijat patah tulang hingga kembali normal. Meskipun begitu, sebenarnya kisah seorang ahli pijat patah tulang di Indonesia ini bukanlah hal yang baru.

Ya, jauh sebelum Ida Dayak, Indonesia memiliki sosok ahli pijat patah tulang asli Cimande yang melegenda bernama Haji Naim.

Dilansir dari laman CNN Indonesia, Haji Naim memiliki tempat praktek di Jalan MPR III Dalam Nomor 24, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Sama halnya seperti Ida Dayak, tempat praktek Haji Naim ini juga selalu ramai oleh pasien.

Di rumah kecilnya itu, setiap harinya selalu dipenuhi puluhan orang yang berkumpul untuk mendapatkan pengobatan dari Haji Naim. Saat itu, nama besarnya juga sudah menggema di seluruh kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Bukan hanya orang-orang biasa saja, akan tetapi orang dari berbagai lintas sosial juga mempercayai bahwa tempat Haji Naim bisa mengobati berbagai penyakit. Kepopuleran tempat pijat tulang tersebut tentunya juga tak lepas dari sosok sang perintisnya, Haji Naim.

Diceritakan bahwa kepiawaiannya dalam memijat itu dimulai sejak ia belajar pencak silat. Sebagai putra asli Betawi, kala itu Naim pun belajar aliran pencak silat Cimande.

Menariknya, aliran silat yang berasal dari Bumi Pasundan itu juga tidak hanya mewariskan ilmu silat, namun juga ilmu memijat pada orang yang berguru pada aliran tersebut. Diketahui, Naim sendiri pernah belajar dari sesepuh aliran Cimande, yakni Kiai Hasbullah.

Baca: Mengenang Sewindu Mendiang Mpok Nori, Komedian Betawi Jago Nyanyi

Putra Haji Naim, Hasan menjelaskan bahwa sang ayah telah mempraktekkan ilmu memijatnya itu sejak 1960-an, dan Rumah Cilandak Barat menjadi saksi dimulainya praktik pemijatan yang kemudian tersohor hingga ke seluruh Jakarta.

"Ayah saya sudah tak aktif memijat sejak 1980-an, lalu setahun kemudian atau tepatnya pada 1981 beliau wafat," jelas Hasan sebagaimana dilansir dari laman GNFI.

Meskipun begitu, praktik pijat Haji Naim ini masih diteruskan oleh anak-anaknya. Diketahui, Haji Naim sendiri memiliki tiga belas orang anak. Kemudian dari ketiga belas anaknya itu, dua belas diantaranya sudah mewarisi ilmu memijat dari Haji Naim.

Tercatat, sejak beroperasi pada 1960-an, pengobatan yang dirintis Haji Naim ini tak banyak berubah, baik dari segi tempat maupun proses pengobatannya. Kendati demikian, pengobatannya hingga kini tetap diminati masyarakat di tengah inovasi pengobatan modern.

Salah satu penerus pengobatan Haji Naim, Kosasih mengungkapkan bahwa banyak pasien dari rumah sakit meneruskan pengobatan ke Pijat Haji Naim dikarenakan tidak repot dalam urusan administrasi. Ditambah lagi, untuk biaya pengobatannya juga diberikan seikhlasnya.

"Dalam sehari itu, ada sekitar seratus sampai dengan dua ratusan pasien datang kemari. Apalagi jika hari Sabtu dan Minggu, bisa hampir tiga ratusan," ungkap Kosasih sebagaimana dimuat di laman Kumparan.

Adapun praktik pijat Haji Naim ini buka setiap hari, mulai pukul 05.30 WIB s.d 23.00 WIB. Selanjutnya, setiap Kamis, pemijatnya akan melakukan pengajian Al-Quran. Sehingga praktiknya akan tutup sementara pada pukul 18.00 WIB dan kembali buka pada pukul 21.00 WIB.

Selain itu, untuk pijat di tempat tersebut juga menggunakan minyak khas Cimande dan penyangga yang terbuat dari bambu bagi pasien yang mengalami patah tulang. Tak hanya itu saja, tempat pengobatan itu turut menyediakan ruang rawat inap bagi pasien yang mengalami luka berat.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 18 April 2023 15:14:56

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (1)

Koropak.co.id - Tanggal 18 April 2009, dunia perpustakaan tanah air dirundung duka. Pasalnya di tanggal tersebut, tokoh kepustakaan Indonesia, Lily Koeshartini Somadikarta meninggal dunia.

Semasa hidupnya, wanita kelahiran Surabaya, 1 Juni 1926 itu sudah berkecimpung di bidang ilmu perpustakaan sejak 1960-an. Menariknya lagi, teori dasar kepustakaan yang dipaparkannya kala itu tak terhapuskan oleh waktu sekalipun kategorisasi buku saat ini telah dilakukan secara digital.

Selain menjadi tokoh kepustakaan Indonesia, ia juga dikenal sebagai kepala Perpustakaan IPB pertama sekaligus juga ketua jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia yang pertama.

Berbicara mengenai perjalanan hidupnya, meskipun lahir di Surabaya, namun ia dibesarkan di Semarang, Jawa Tengah. Diceritakan akibat Pertempuran Lima Hari di Semarang, Lily pun harus berpindah-pindah sekolah ke Salatiga lalu ke Yogyakarta untuk memperoleh ijazah SMA-B-nya pada 1947.

Setelah lulus dari SMA-B, dua tahun lamanya Lily Koeshartini sempat mencari-cari sekolah yang cocok untuk dijadikan tempatnya meneruskan pendidikan.

Pada 1949, ia akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan memulai studinya di jurusan biologi Sekolah Lanjutan Tinggi (sekarang Universitas Nasional) yang baru dibuka pada Oktober 1949.

Dikarenakan kuliahnya di SLT itu diselenggarakan pada sore hari, sehingga di siang harinya ia bekerja di Centrale Boekerij van Indonesie (CBI) atau dalam bahasa Indonesia: Perpustakaan Pusat Indonesia.

Baca: Kusbini, Sang Pioner Berkembangnya Musik Pop di Indonesia

Tak disangka, melalui beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Lily berhasil melanjutkan pendidikan perpustakaan di Centrale Vereniging voor Openbare Leeszalen en Bibliotheken (OLB Amsterdam), Belanda pada 1951 dan memperoleh gelar diplomanya pada 1953.

Pada 26 Februari 1955, Lily menikah dengan seorang pria bernama Soekarja Somadikarta yang saat itu merupakan asisten profesor Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia yang menjadi cikal bakal Institut Pertanian Bogor.

Setelah menikah, Lily Koeshartini pun dibawa ke Bogor dan disana ia bekerja sebagai pustakawati di Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan. Selanjutnya pada 1963, Lily berhasil mendapatkan beasiswa dari Kentucky Research Foundation untuk mengambil program master di University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat.

Kemudian tahun yang sama, atau tepatnya pada September 1963, Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor pada akhirnya dialihkan ke Institut Pertanian Bogor (IPB) yang baru saja dibentuk.

Setahun kemudian atau tepatnya pada 1964-an, sekembalinya dari Amerika Serikat, Lily memprakarsai penyatuan perpustakaan yang ada dan membentuk Perpustakaan Pusat IPB. Selain itu, ia juga dijadikan kepala perpustakaan IPB pertama disana.

Berselang empat tahun kemudian atau tepatnya pada 1968, Lily memutuskan untuk berkarir sebagai pengajar tetap di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Bahkan sampai dengan 2004, ia masih mengajar dan membantu pengembangan UPT Perpustakaan UI, meskipun telah pensiun pada 1991.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 14 April 2023 12:07:56

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (2)

Koropak.co.id - Musik Pop, menjadi genre musik yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Jika dilihat dari sejarahnya, musik pop sendiri berkembang sejak pertengahan abad ke-20 Masehi, khususnya di Amerika Serikat dan Inggris.

Bisa dikatakan juga pada masa itu, popularitas dari musik pop memang sedang melejit. Sementara itu, genre-genre musik kuno, seperti keroncong, mulai tergerus di Indonesia. Meskipun begitu, musik keroncong sendiri telah memberikan sumbangsihnya dalam perkembangan seni musik pop di Indonesia.

Diketahui, salah satu pionir utama dalam perkembangan seni musik pop di Indonesia itu adalah Kusbini. Pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, pada 1909-an itu dikenal sebagai seorang pioner penting dalam sejarah perkembangan musik di Indonesia.

Setidaknya sejak 1920-an, nama Kusbini sendiri sudah tersohor sebagai musisi di Indonesia. Tercatat, beberapa teman musisinya yang turut serta dalam aktivitas musik keroncong bersama Kusbini pada masa itu diantaranya, Annie Landouw, S. Abdoellah, dan Gesang.

Sebelum Indonesia merdeka, Kusbini meniti kariernya sebagai pemimpin orkes sekaligus pemain biola di perusahaan radio milik Jepang. Kemudian pada saat radio Jepang tempatnya bekerja dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia dan berubah menjadi Radio Republik Indonesia (RRI), Kusbini pun menerima penghargaan sebagai Bintang Radio.

Tak hanya itu saja, lagu ciptaan Kusbini juga diketahui pernah memenangkan ajang pemilihan lagu keroncong oleh RRI yang dikenal dengan Kr. Pastoral. Pada 1954-an, ia kemudian bersama rekan-rekannya mendirikan Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta.

Seiring berjalannya waktu, lembaga itu pun berubah nama menjadi Akademi Musik Indonesia (AMI) sebelum pada akhirnya saat ini lebih dikenal dengan Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI).

Baca: Kisah Adinegoro dan Perjalanan Jurnalistik ke Eropa

Dari beberapa mahakarya yang berhasil diciptakan Kusbini, lagu Bagimu Negeri menjadi salah satu lagu nasional Indonesia. Kusbini juga dikenal sebagai seorang musisi yang mahir dalam memainkan musik keroncong yang dulunya sangat populer di telinga masyarakat Indonesia.

Selanjutnya, di kala masyarakat Indonesia sudah mulai dekat dengan aliran musik yang lebih modern, yaitu genre musik pop, ternyata hal ini juga tidak lepas dari objek kreativitas berseni Kusbini.

(Video) Reparasi Tulang Legendaris Haji Naim | SECRET STORY (28/12/22)

Diceritakan pada masa itu, Kusbini secara perlahan mulai memainkan lagu-lagu pop yang familiar di Amerika Serikat dan Inggris dengan perwujudan seni musik yang berbeda dengan aura keroncong.

Adapun salah satu cara Kusbini dalam membangun seni musik pop Indonesia, yakni dengan mengubah judul-judul lagu pop Amerika menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa lagu Amerika yang ia bumikan di Indonesia, merupakan lagu-lagu Tosella, Trail of the Lonsome Pine, dan The Broken Melody.

Uniknya lagi, selama sekitar 30 tahun memainkan lagu-lagu Barat dalam judul bahasa Indonesia, membuat banyak orang yang mengira bahwa lagu tersebut adalah karya Kusbini sendiri. Semakin aktifnya Kusbini dalam memainkan lagu-lagu modern, lambat laun keroncong pun melahirkan seni musik yang sekarang dikenal dengan genre pop di Indonesia.

Oleh karena itulah, lagu pop Indonesia ini memiliki keterkaitan dengan keroncong sebagai cikal bakalnya. Namun, seni musik keroncong ini tidak hanya berkembang melahirkan musik pop Indonesia. Akan tetapi, musik keroncong juga memberi napas pada genre-genre musik lain di Indonesia.

Pada 1999-an, Kusbini mengembuskan napas terakhirnya. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Yogyakarta pun mengabadikan nama Kusbini menjadi nama sebuah jalan di Yogyakarta.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 03 April 2023 12:05:48

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (3)

Koropak.co.id - Hari ini, 8 tahun lalu atau tepatnya 3 April 2015, seniman Betawi, Mpok Nori Meninggal dunia. Komedian senior bernama lengkap Hj. Nuri Sarinuri ini meninggal dunia sekitar pukul 07.40 WIB di Rumah Sakit Pasar Rebo, Cipayung, Jakarta, Jumat 3 April 2015.

Mpok Nori meninggal dunia di usia 84 tahun, setelah berjuang melawan penyakit asma yang dideritanya bawaan dari keturunan. Setelah disemayamkan di rumah duka di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur, almarhumah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, sekitar pukul 14.00 WIB sesuai dengan wasiatnya.

Sepanjang hidupnya, Mpok Nori dikenal sebagai salah satu sosok pelawak yang penampilannya selalu berhasil mengocok perut banyak orang. Bahkan ia juga tak segan menjadi pancingan kelucuan, bulan-bulanan, dan objek derita di atas panggung.

Mpok Nori merupakan salah satu ikon Komedi Betawi kelahiran Batavia (sekarang Jakarta), 10 Agustus 1930. Ia juga merupakan pendiri Grup Lenong Sinar Noray. Diketahui saat kecil, Mpok Nori bercita-cita ingin menjadi juru rawat, namun kandas karena dilarang oleh orang tuanya.

Mpok Nori merupakan anak dari Kenan (Baba Kenan) dan Mak Kemah, pemain rebab dan gendang yang kemudian membentuk grup Topeng Betawi bernama Gang Makyong. Selain itu, dia juga diamanatkan oleh orang tuanya untuk tetap menghidupkan kebudayaan Betawi.

Mpok Nori merupakan adik dari seniman topeng, H. Nasir. Dalam setiap lawakan yang dibawakannya, ia kerap kali tampil dengan selalu mengaku bahwa dirinya adalah Nikita Willy. Mpok Nori menikah dengan seorang pria bernama Ungkung, pemain Tanjidor era 1946-an, ketika masih berusia 16 tahun.

Baca: Mengenang Nur Tompel, Pelawak Pertama dengan Karakter Gagap di Indonesia

Dari hasil pernikahannya itu, keduanya pun dikaruniai enam orang anak, akan tetapi tiga di antaranya meninggal dunia. Menariknya lagi, salah satu putrinya, Engkar Kamila Sari mengikuti jejaknya sebagai seniman Betawi.

Mpok Nori mengawali kariernya sebagai pelawak dengan bermain lenong Betawi melalui Sanggar Setia yang didirikan oleh sahabatnya, almarhum Haji Bokir. Berawal dari sanalah, nama Mpok Nori semakin dikenal sebagai pemain lenong dan sering diajak melucu di berbagai stasiun televisi.

Karier Mpok Nori pun langsung melesat ketika dirinya tampil dalam serial Pepesan Kosong pada 1993-1995. Mulai dari sanalah, ia sering bermain bersama dengan pelawak Betawi lainnya seperti Malih Tong Tong, Haji Bolot, dan juga almarhum Nazar Amir.

Selain berakting, Mpok Nori juga memiliki kemampuan lainnya yakni bermain silat dan menyanyi. Bahkan dia juga pernah mempunyai kaset rekaman berjudul Sampah. Pada 1980-an, berkat prestasinya di bidang kesenian, Mpok Nori ditunjuk menjadi dosen kehormatan Jurusan Tari di LPKJ (sekarang IKJ).

Tak pelit dalam berbagi ilmu, Mpok Nori pun mendirikan kelompok pertunjukan seni yang diberi nama Sinorai dan memiliki anggota 50 anak.

Pada Juni 2022, nama Mpok Nori diabadikan sebagai nama jalan di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur menggantikan Jalan Raya Bambu Apus sebagai salah satu dari 22 jalan di DKI Jakarta yang diganti saat itu.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 30 March 2023 12:04:00

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (4)

Koropak.co.id - Selain nama RA Kartini, Dewi Sartika, atau Cut Nyak Dien, sebenarnya masih banyak tokoh perempuan di Indonesia yang punya andil besar dalam kemajuan bangsa, khususnya dalam masalah pemberdayaan perempuan sekaligus untuk mengangkat derajatnya agar bisa setara dengan kaum laki-laki.

Salah satu sosok perempuan yang memiliki jasa besar dalam memajukan kaum perempuan di Indonesia, adalah Raden Ayu Lasminingrat. Lantas, seperti apa kehidupannya? Apa saja jasa-jasa yang sudah ia lakukan untuk kemajuan perempuan semasa hidupnya?

Raden Ayu Lasminingrat atau yang kerap disebut sebagai Lasminingrat, lahir di Garut, Jawa Barat pada 29 Maret 1854. Lasminingrat merupakan putri pertama dari pasangan Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria.

Dimana sang ayah, Raden Haji Muhamad Musa, adalah seorang sastrawan dan penghulu di wilayah Garut. Lasminingrat juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam kesetaraan gender. Ia meninggal dunia di usia ke-94 tahun pada 1948-an.

Lasminingrat lahir di masa ketika pendidikan bukanlah sebuah hal yang menjadi hak asasi, apalagi untuk anak-anak perempuan. Namun, atas inisiatif dari sang ayah, ia pun bisa menempuh pendidikan di Kontrolir Levisan atau Levyson Norman, pejabat Belanda sekaligus kenalan sang ayah.

Dari Levyson Norman inilah, Lasminingrat bisa baca tulis, termasuk juga berbicara bahasa Belanda. Bahkan ia sudah tergolong mahir untuk fasih dalam berbahasa Belanda, terlebih lagi untuk usia anak-anak di masa tersebut.

Tak hanya itu saja, Lasminingrat juga menjadi perempuan keturunan Sunda pertama di Garut yang berhasil menguasai bahasa Belanda. Semasa pembelajarannya, ia banyak bersentuhan dengan hal-hal yang berbau kebudayaan barat. Mulai dari buku-buku ilmu pengetahuan barat, novel fiksi, hingga pemikiran-pemikiran dari cendekiawan barat.

Hal inilah yang pada akhirnya semakin membuka pengetahuan Lasminingrat terkait dengan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya. Pemikirannya kala itu juga bahkan melampaui perempuan di zamannya, dimana ia bercita-cita untuk mewujudkan kesetaraan gender bagi kaum perempuan.

Baca: Mengenal Siti Walidah, Sang Fajar yang Terbit dari Muhammadiyah

Selain itu, ia juga mempunyai minat di dunia pendidikan yang menurutnya merupakan kunci untuk memajukan masyarakat. Pada 1879, Lasminingrat mulai menulis berbagai buku berbahasa Sunda dari berbagai bidang, mulai dari ilmu alam, sosiologi, psikologi, agama, hingga moral.

Semuanya itu ia manfaatkan untuk mendidik anak-anak di daerahnya. Dengan buku berbahasa Sunda inilah, membuat ilmu-ilmu yang diberikannya akan lebih bisa diterima secara luas. Tercatat, salah satu karyanya yang dikenal banyak orang saat itu adalah Warnasari dan Carita Erman.

Pada 1903, Lasminingrat turut membantu Dewi Sartika dalam membuka Sakola Istri yang berada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selanjutnya pada 1907, langkah besar yang ia lakukan untuk memajukan pendidikan adalah dengan mendirikan Sakola Kautamaan Istri yang berlokasi di Pendopo Garut.

Awalnya, tempat yang didirikannya itu hanyalah sebuah tempat bagi kalangan bangsawan saja untuk mengakses dan berbagi pengetahuan, termasuk soal pemberdayaan perempuan. Namun disini jugalah Lasminingrat bisa memberikan buku atau tulisan yang menjadi buah pemikirannya.

Aktivitas menulisnya pun sempat terhenti setelah menikah dengan Bupati Garut, Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII. Lasminingrat pun merubah fokusnya dengan lebih memperhatikan soal pendidikan perempuan saja. Lalu, pada 1911, sekolahnya semakin berkembang setelah berpindah lokasi ke Jalan Ranggalawe.

Bahkan murid di sekolahnya pun kala itu mencapai 200 orang dan terdiri atas 5 kelas. Di sisi lain, pihak Hindia Belanda juga mengakui sekolahnya sebagai institusi pendidikan dan mengapresiasi jasa yang telah dilakukannya.

Selanjutnya pada masa pendudukan Jepang, sekolah yang didirikannya berubah nama menjadi Sekolah Rakyat (SR). Pasca kemerdekaan, sekolah tersebut dikelola oleh pemerintah dan kini berubah nama menjadi SDN Regol.

Seiring berjalannya waktu, sampai dengan saat ini jasa-jasanya sangat dikenang dalam ranah intelektual dan pemberdayaan perempuan. Tak hanya itu saja, ia juga sampai diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Kabupaten Garut.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 29 March 2023 07:09:00

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (5)

Koropak.co.id, Jawa Tengah - Aktris Indonesia, Diaz Aries mengaku tertarik dengan seni budaya dan kearifan lokal yang dimiliki daerah Purbalingga, Jawa Tengah. Hal tersebut jugalah yang membuatnya tertarik untuk ikut serta dalam pelestarian budaya di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Pelestarian budaya itu pun dibuktikan oleh Pemain Film Aku Tahu Kapan Kamu Mati dengan membuat berbagai konten video tentang ragam destinasi wisata dan seni budaya di daerah asal musik kentongan tersebut.

"Aku membagikan videonya itu melalui kanal JBS Healing. Isinya tentang seni tradisional dan modern di Purbalingga. Kedepannya juga masih ada project dengan seniman Purbalingga, Sigit Blewuk, Bayu Gaka, dan Ajat Famuji," kata Diaz Aries yang juga merupakan pemeran sinetron Ikatan Cinta itu.

(Video) Kerah Biru: Sambung Tulang Langsung Pulang di Haji Naim

Selain tempat wisata, Akrtis bernama lengkap Diaz Ariestyani Damaswara ini juga turut mempelajari kesenian setempat, mulai dari gamelan Jawa, membatik motif khas Lawa, ciri khas dari batik Purbalingga yang menjadi tempatnya kini menetap.

"Aku memang sekarang menayangkan konten-konten yang berhubungan dengan kesenian. Kemudian juga traveling tempat-tempat bersejarah dan destinasi wisata di Purbalingga, Purwokerto, dan sekitarnya," ungkapnya.

Baca: Kisah Laely Indah Lestari yang Jatuh Cinta dengan Kebudayaan Indonesia

Meskipun disibukkan dengan proyek mempelajari budaya khas Purbalingga, akan tetapi aktris kelahiran Jakarta, 21 Maret 1987 ini juga masih tetap eksis di industri hiburan tanah air. "Aku masih menjadi brand ambassador dari produk herbal Garuda Telang," katanya.

Sebagai informasi, Diaz Ariestyani Damaswara atau yang lebih dikenal dengan nama Diaz Aries ini mengawali kariernya di industri hiburan tanah air dengan menjadi model majalah Amanah saat masih berusia satu tahun.

Anak dari Dewi Arliza, model permen menta era 88-an ini juga memiliki hobi melukis, dan pernah menjadi bintang iklan produk Walrus pada 2006. Kemudian pada 2009, ia menjadi ikon dari iklan pariwisata Pulau Bidadari.

Pemeran Dokter Amanda, psikiater Reina dalam sinetron Ikatan Cinta pada 2021 itu juga mempunyai hobi yang memacu adrenalin, seperti olahraga menembak dan naik gunung.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 27 March 2023 15:18:41

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (6)

Koropak.co.id - Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Sinden atau yang biasa juga disebut dengan Waranggana, merupakan penyanyi wanita yang ada pada seni gamelan atau pertunjukan wayang, baik itu wayang golek maupun wayang kulit.

Dalam sebuah pertunjukan gamelan atau wayang, biasanya sinden ini akan bertugas dalam melantunkan atau melagukan syair-syair yang mengandung makna dan filosofi sesuai dengan tema yang diangkat dalam setiap pertunjukannya.

Meskipun saat ini keberadaan sinden mulai tergerus zaman, namun masih banyak juga sinden yang sering tampil membawakan gending-gending dengan suara khasnya. Salah satunya sinden legendaris bernama Anik Sunyahni.

Bahkan sinden berjuluk "Si Ratu Kutut Manggung" ini sampai dengan sekarang masih banyak dikenal oleh masyarakat. Selain itu ia juga merupakan sinden yang mempunyai pembawaan yang khas dan indah dalam melantunkan gending Kutut Manggung di atas panggung.

Berbicara mengenai latar belakang kehidupan pribadinya, wanita kelahiran Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada 1976 ini terlahir dari keluarga yang sangat njawani. Sang ayah, Atmowiyono, merupakan pemilik gamelan di desanya dan sering dipakai untuk pertunjukan karawitan.

Sehingga tidak mengherankan sekali jika Sunyahni kecil mempelajari seluk-beluk ilmu sinden secara langsung dari keluarganya. Sejak usia 8 tahun, Sunyahni pun mulai belajar tampil di panggung. Hingga seiring berjalannya waktu, Sunyahni akhirnya semakin dikenal banyak oleh sesama seniman karawitan.

Diketahui, Panitia tetap (Pantap) Semarang merupakan salah satu kelompok seniman yang turut membesarkan nama Sunyahni. Pada saat Sunyahni menginjak usia ke-14 tahun saat itu, Sunyahni diminta untuk menemani dalang-dalang besar seperti Ki Anom Suroto dan Ki Mantep Sudarsono untuk menjadi sinden dalam pagelaran wayang mereka.

Puncaknya, Sunyahni berhasil mendapatkan kontrak dengan salah satu media televisi terbesar di Indonesia, yakni Indosiar untuk menjadi bintang tamu bersama para dalang ternama. Sehingga, sejak saat itulah ia pun menjadi sinden yang dikenal luas masyarakat.

Di sisi lain, kualitas suara dan ketekunan yang dimiliki Sunyahni juga berhasil membuatnya tampil di berbagai negara di dunia, seperti Suriname, Slovakia, Ceko, dan Taiwan. Sementara di dalam negeri, ia berhasil meraih berbagai penghargaan dari perlombaan sinden.

Hingga Sunyahni juga berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Presiden kedua Indonesia, Soeharto dan tampil di Gedung MPR dan DPR. Meskipun begitu, dibalik segala prestasi yang diraihnya tersebut, berbagai macam tantangan harus ia hadapi.

Baca: Elisha Orcarus Allasso, Sinden Cantik dengan Sejuta Talenta

Tantangan itu mulai dari stigma negatif masyarakat, hingga sulitnya berinovasi dalam mengubah cengkok yang sering disalahartikan mengubah pakem atau aturan baku gending. Selain itu juga banyak orang yang beranggapan bahwa dunia pewayangan, termasuk sinden di dalamnya itu tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat magis.

Hal ini tentunya seolah membuktikan bahwa profesi sinden memang bukanlah profesi yang mudah. Pasalnya ia harus memiliki mental yang tangguh serta keajegan dalam meniti karier sedikit demi sedikit. Sunyahni sendiri memang dinilai berhasil dalam mempertahankan kebudayaan Jawa di era sekarang.

Tak hanya itu saja, ia juga berusaha untuk menurunkan bakat sindennya kepada kedua anak perempuannya yang bernama Putri dan Monika. Keduanya pun mengaku bangga memiliki ibu seorang pesinden profesional dan berusaha mempelajari ilmu-ilmu sinden secara totalitas.

Namun pada kenyataannya, jika kita melihat kondisi yang terjadi saat ini, kebudayaan lokal seperti sinden sudah mulai jarang diketahui. Hal ini pun berdampak pada berkurangnya jumlah pesinden muda.

Padahal, dunia sinden dan karawitan itu banyak mengandung filosofi yang perlu diketahui masyarakat, baik yang berkaitan dengan agama, moral, dan kesopanan.

Sementara itu, menurut Sunyahni, sebenarnya masih banyak sinden berkualitas yang ada di luar sana. Hanya saja, rendahnya atensi media membuat sinden-sinden tersebut kurang terliput dan dikenal oleh masyarakat.

Ia juga menganggap bahwa anak muda yang mulai melupakan kebudayaan lokal itu tidak serta-merta melakukannya secara sengaja. Hanya saja, mereka kurang disodorkan kebudayaan tersebut secara terus menerus, sehingga mereka lebih banyak mengekspos kebudayaan luar.

Kendati demikian, terlepas dari menurunnya animo masyarakat terhadap dunia sinden, sebagai sinden profesional, Sunyahni mengaku akan terus menekuni profesinya tersebut.

"Selama masyarakat masih mau menerima saya dengan kondisi apapun, maka saya akan tetap bersinden ria. Sebagai sinden seperti saya, ibaratnya 'nek dituku larang, nek dijaluk diwenehke'," pungkas Sunyahni.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Penulis: E. Kuswara

Koropak.co.id, 22 March 2023 12:11:52

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (7)

Koropak.co.id - Warung Kopi atau yang lebih dikenal dengan Warkop merupakan salah satu grup lawak legendaris Indonesia yang dibentuk oleh Nanu Moeljono, Rudy Badil, Wahjoe Sardono (Dono), Kasino Hadiwibowo (Kasino), dan Indrodjojo Kusumonegoro (Indro).

Nanu, Rudy, Dono dan Kasino merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Sedangkan Indro berkuliah di Universitas Pancasila, Jakarta. Mereka pertama kalinya meraih kesuksesan lewat acara "Obrolan Santai di Warung Kopi" garapan Kepala Bagian Programming Radio Prambors, Temmy Lesanpura.

Seiring berjalannya waktu, tercatat puluhan judul film pun telah mereka bintangi, bahkan selalu laris di pasaran. Meskipun masyarakat mengenal Warkop beranggotakan tiga orang yakni Dono, Kasino dan Indro.

Akan tetapi sebenarnya terdapat dua anggota Warkop lainnya yakni Nanu dan Rudy. Tak hanya itu saja dua anggota Warkop tersebut bahkan terlibat aktif dalam membesarkan Warkop pada masa-masa awal saat masih bernama Warkop Prambors.

Salah satu anggota Warkop, Drs. Nanu Moeljono atau yang lebih dikenal dengan nama Nanu Moeljono, lahir di Jakarta pada 17 November 1952-an. Nanu merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara yang lahir dari ayah Jawa dan ibu Sunda.

Ia berkuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan sosiologi. Menariknya saat kuliah, ia juga merupakan salah satu mahasiswa yang diajar oleh Dono. Menurut catatan harian Dono, Nanu sendiri sempat tidak lulus kelasnya karena sering bolos di kelas.

Nanu juga dikenal sebagai anggota Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) bersama Dono dan Kasino. Sementara itu, Nanu sendiri memulai kariernya sebagai pelawak pada 1973-an saat dirinya bersama Kasino dan Rudy Badil.

Saat itu, ketiganya dipercaya untuk terlibat dalam program acara talkshow Warung Kopi yang disiarkan radio Prambors Jakarta setiap hari Kamis malam. Program tersebut pun cukup sukses hingga memiliki banyak penggemar setia pada masa itu.

Kesuksesan acara Warkop pun membuat mereka mulai mendapat tawaran untuk tampil di sejumlah pentas dan pertunjukan di berbagai kota, hingga pada akhirnya mereka sempat merilis album rekaman kaset komedi sampai membintangi banyak film yang melambungkan nama Warkop.

Baca: Kisah Perjalanan Hidup Nana Krip dan Sersan Prambors

Namun sayangnya, di masa-masa ini, Rudy Badil akhirnya memilih untuk menjadi sosok di belakang layar dibanding keempat personil Warkop lainnya yang tampil di pentas. Menariknya, hampir dalam setiap lawakannya, Nanu berperan atau selalu menggunakan dialog dengan logat Batak meskipun ia sebenarnya bukan orang Batak.

Seiring berjalannya waktu, nama Warkop pun mulai populer dan dikenal luas oleh masyarakat secara nasional saat mereka membintangi film Mana Tahaaan... pada 1979-an. Film tersebut terasa istimewa, karena merupakan film nasional pertama mereka dengan kisah dalam filmnya yang juga ditulis sendiri oleh Warkop.

Hal yang menggembirakannya lagi, film arahan sutradara Nawi Ismail yang juga dibintangi Elvie Sukaesih, Rahayu Effendi dan Kusno Sudjarwadi tersebut cukup sukses di pasaran. Kesuksesan film Mana Tahaaan... juga membuat Nanu mendapatkan tawaran sebagai pemeran utama untuk bermain dalam film Rojali dan Zuleha.

Dalam film itu, Nanu beradu akting dengan Lydia Kandou, Elvie Sukaesih dan Titiek Puspa. Meskipun begitu, konon keterlibatan Nanu dalam film itu ternyata sempat menimbulkan polemik dikarenakan tidak dibicarakan sebelumnya dengan personil Warkop lainnya.

Terhitung sejak Agustus 1980, Nanu mulai tidak aktif baik di Warkop maupun dunia hiburan akibat menderita penyakit yang cukup serius. Sedangkan tiga personil Warkop lainnya, Dono, Kasino dan Indro tetap terus berkarya dan produktif membintangi film komedi.

Dengan kondisinya yang sakit itulah, Nanu pun lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya yang berada di Jalan Setiabudi Barat, Jakarta Selatan. Belakangan diketahui bahwa Nanu mengidap nephrotic syndrome, sebuah penyakit pada saringan ginjal.

(Video) Jurus Pijat Ala Haji Naim

Akibat dari penyakit itu, kondisi tubuh Nanu saat itu semakin hari semakin terlihat kurus. Nanu pada akhirnya meninggal dunia di RSCM Jakarta dalam usia 31 tahun setelah berjuang melawan penyakit ginjal yang dideritanya sejak lama pada 22 Maret 1983 dan dimakamkan pada 23 Maret 1983 di pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta.

Nanu juga merupakan personil dan pendiri grup lawak Warkop pertama yang meninggal dunia. Setelah itu, Kasino menjadi personil Warkop kedua yang meninggal dunia pada 19 Desember 1997. Kemudian disusul Dono yang meninggal pada 30 Desember 2001.

Sementara pendiri Warkop lainnya, yakni Rudy Badil dikabarkan meninggal dunia pada 11 Juli 2019. Sehingga saat ini satu-satunya personil Warkop yang masih hidup adalah Indro.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 17 March 2023 15:08:57

Admin

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (8)

Koropak.co.id - Lama mengembara di Eropa dan bekerja di tempat-tempat bergengsi, Raden Mas Panji Sosrokartono pulang ke Tanah Air dan memilih jalan hidup yang berbeda. Putra Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, kelahiran 10 April 1877, itu meniti dunia yang bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya.

Selama di Eropa, kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu berkarier di banyak tempat, mulai jadi wartawan The New York Herald, atase di kedutaan besar Perancis, hingga jadi penerjemah bahasa di Persatuan Bangsa-Bangsa.

Pada 1925, Sosrokartono pulang ke Tanah Air dan pada 1927 memilih tinggal di Bandung. Salah satu aktivitas yang dilakukannya di Kota Kembang adalah membuka Balai Darussalam. Di tempat itu, Sosrokartono menapaki jalan spiritual dan membuka praktik pengobatan.

Ia mengabdikan diri untuk menolong orang-orang sakit. Uniknya, cara pengobatannya tidak seperti yang dilakukan para dokter. Ia hanya menggunakan air putih sebagai obat untuk segala macam penyakit. Lantaran itu ia dikenal dengan sebutan dokter cai atau dokter air. Bukan hanya warga Bandung, pasien-pasiennya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk orang-orang Eropa.

Sejak membuka Balai Darussalam, Kartono memang menekuni dunia kebatinan. Gerak dan pemikirannya tercurah pada jalan spiritual. Salah satu aktivitasnya adalah menyulam huruf alif dalam selembar kain yang dianyam dengan benang.

Huruf alim itu dibuatnya tidak asal-asalan. Ia menyulamnya sambil tirakat, serta kainnya tidak boleh disampirkan begitu saja seperti menjemur pakaian. Dengan memohon kepada Allah Subhanahu wata'ala, sulaman alif dan air putih itu digunakan untuk mengobati orang-orang.

Pemilihan huruf alif itu bukan tanpa alasan. Bagi Sosrokartono, huruf pertama dalam abjad bahasa Arab itu merupakan lambang tegak lurus yang mencerminkan kejujuran, keteguhan, kekukuhan, dan keyakinan kepada Allah Subhanahu wata'ala. Lantaran itulah ia dijuluki Sang Alif.

Baca: Kartono, Dari Wartawan di Eropa Jadi Penerjemah PBB

Seandainya mau, Kartono bisa saja memilih jalan hidup yang dipenuhi kemewahan. Sebagai putra bangsawan dan punya kecerdasan di atas rata-rata, ia bisa mendapatkan kekayaan berlimpah dengan cara mudah. Tapi itu tidak dilakukannya.

Salah satu yang menjadi spirit gerakannya adalah ilmu kantong bolong. Ia mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu sesama tanpa memikirkan imbalan. Itu menjadi jalan pengabdiannya sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.

Dalam tesis yang ditulis Minanur Rohman Mahrus Maulana pada 2017, dijelaskan, ajaran ilmu kantong bolong tidak membuka ruang mementingkan diri sendiri secara berlebihan. Setiap manusia dituntut selalu menolong sesama tanpa pamrih.

Inti dari ilmu kantong bolong adalah mengosongkan diri pribadi dari pamrih dalam menolong sesama manusia. Sosrokartono tidak hanya sadar bahwa Tuhanlah yang harus disembah, tapi juga meyakini bahwa seluruh jiwa raga dipersembahkan kepada Tuhan.

Mereka yang melakukan perbuatan tanpa pamrih akan dijauhkan dari rasa takut. Batinnya akan selalu merdeka. Jalan itulah yang dipilih Sosrokartono. Ia melakukan semuanya kosong dari pamrih, tidak mengharap suatu apapun, hanya menjalankan pengabdian kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Tak heran, di akhir hidupnya ia tidak meninggalkan banyak harta. Salah satu "peninggalannya" cuma selembar kain bersulam huruf alif. Sosrokartono menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 8 Februari 1952, di Bandung dan dikebumikan di Jawa Tengah, tepatnya di kompleks makam keluarga Sedomukti, Kudus.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 16 March 2023 12:01:15

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (9)

Koropak.co.id, Jawa Barat - Dunia hiburan tanah air kembali dirundung duka. Artis legendaris Indonesia, Nani Wijaya meninggal dunia sekitar pukul 03.28 WIB, setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Kamis 16 Maret 2023.

Nani Wijaya meninggal dunia di usia ke-78 tahun. Diketahui, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggal dunia di RS Fatmawati, sang artis senior itu mengidap penyakit demensia, penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir.

Kabar duka tersebut pertama kalinya disampaikan oleh anak Nani Wijaya, Cahya Kamila melalui akun instagramnya. Dalam postingannya, Cahya kamila mengunggah foto Nani Wijaya mengenakan baju dan hijab berwarna putih sembari tersenyum.

"INNALILLAHIWINAILAIHIROJIUN Telah bepulang ibunda kami tercinta dengan tenang Ibu Hj. Nani Widjaya . Di Rs Fatmawaty 16 Maret 2023 pd pukul 3.28. Mohon dimaafkan segala kesalahan yg disengaja maupun tidak disengaja," tulis Cahya Kamila dalam unggahan di akun Instagram-nya, Kamis (16/3).

Jenazah Nani Wijaya rencananya akan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pesantren Al Ihya, Bogor, Jawa Barat, dan akan dimakamkan satu liang lahad bersama dengan sang suami, Misbach Yusa Biran. Saat ini jenazah Nani Wijaya sendiri disemayamkan di rumah duka di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Semasa hidupnya, Dra. Hj. Nani Widjaja atau yang lebih dikenal dengan nama Nani Wijaya, merupakan pemeran senior atau aktris legendaris kelahiran Cirebon, 10 November 1944. Nani Wijaya juga merupakan salah satu dari empat anggota Golden Girls bersama Ida Kusumah, Connie Sutedja, dan Rina Hassim.

Pada 1969, Nani Wijaya menikah dengan Misbach Yusa Biran, seorang sutradara, penulis, kolumnis, sastrawan, dan pelopor dokumentasi film Indonesia. Dari pernikahannya itu, keduanya pun dikarunia 6 orang anak bernama Nina Kartika, Tita Fitrah Soraya, Cahya Kamila, Firdausi, Farry Hanief, dan Sukma Ayu (meninggal dunia, 25 September 2004).

Baca: Mengenang Nur Tompel, Pelawak Pertama dengan Karakter Gagap di Indonesia

Pada 2012, sang sutradara legendaris, Misbach Yusa Biran. Berselang lima tahun kemudian atau tepatnya pada 2017, Nani Wijaya menikah kembali dengan seorang sastrawan dan budayawan, Ajip Rosidi. Namun pada 2020, Ajib Rosidi meninggal dunia.

Sementara itu, berbicara mengenai sepak terjang Nani Wijaya di dunia seni peran, diketahui ia sudah berkecimpung di di bidang tersebut sejak era 60-an. Bahkan berbagai film pun selalu ia mainkan setiap tahunnya, mulai dari Darah Tinggi (1960), Di Lereng Gunung Kawi (1961), Si Doel Anak Betawi (1973), dan Yang Muda Yang Bercinta, Nostalgia di SMA (1980).

Lalu ada, RA Kartini (1982), Opera Jakarta (1985), Catatan si Boy I (1987), III (1989) dan IV (1990), Cintapuccino (2007), Doa yang Mengancam (2008), hingga yang terbaru Ummi Aminah dan Mama Cake (2012).

Tak hanya bermain peran di layar lebar, Nani Wijaya juga kerap tampil menghiasi layar kaca. Bahkan ia telah menerima tawaran bermain sinetron sejak 1995-an, hingga membuatnya sudah tampil di berbagai judul sinetron.

Beberapa nama sinetron terkenal yang pernah diperankannya itu diantaranya, Wah Cintaku sebagai ibunya Cecep (2001-2002), Bajaj Bajuri sebagai Emak (2002-2007), Si Cecep (2004), Kemilau Cinta Kamila 1-3 (2010), Tukang Bubur Naik Haji the Series (2012-2017), hingga yang terbaru Cinta Mulia (2020-2021).

Malang melintang di dunia seni peran sejak dekade 60-an sampai dengan sekarang, membuatnya meraih berbagai penghargaan, diantaranya dalam Festival Film Indonesia sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dalam film Yang Muda Yang Bercinta (1978) dan RA Kartini (1983).

Ia juga menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dalam Festival Film Bandung (2010), Indonesian Movie Actor Awards (2021), dan Indonesian Drama Series Awards (2022).

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 16 March 2023 08:07:46

Admin

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (10)

Koropak.co.id - Perundingan antara Jerman dan Perancis itu berlangsung sangat tertutup. Hanya pihak-pihak tertentu yang tahu, karena dilakukan di atas gerbong kereta api yang diparkir di tengah hutan. Seorangpun tidak ada yang boleh menyebarluaskan hasilnya. Siapa yang melanggar akan ditembak mati tanpa melalui proses pengadilan.

Ancaman itu tidak membuat nyali Raden Mas Panji Sosrokartono menjadi ciut. Putra ketiga bupati Jepara Adipati Ario Sosroningrat, yang juga kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu mendapatkan informasi yang sangat rahasia tersebut.

Kartono yang saat itu bekerja sebagai wartawan The New York Herald biro Eropa memperoleh kabar rahasia tentang Jerman yang menyerah kepada Perancis. Ia lantas memuatnya dalam surat kabar asal Amerika Serikat itu.

Lantaran berita tersebut, seperti ditulis Minanur Rohman Mahrus Maulana dalam tesisnya yang ditulis pada 2017, nama Sosrokartono semakin melejit dan mendapat apresiasi tinggi dari kalangan jurnalis internasional.

Bukan hanya para wartawan, banyak orang penting di Eropa yang mengapresiasi kecerdasan Sosrokartono. Itu di antaranya terbukti dengan dipilihnya Sosrokartono menjadi juru bahasa tunggal blok Sekutu pada tahun 1918.

Sosrokartono memang punya kecerdasan dalam penguasaan banyak bahasa. Bukan satu dua atau tiga, ia menguasai puluhan bahasa asing, termasuk bahasa Slavia dan Rusia. Karena itulah ia ditunjuk menjadi juru bicara setelah melalui proses seleksi yang ketat.

(Video) Adu bodi tempurung geser 5 menit jalan

Sebagai juru bicara, ia bertugas menjelaskan berbagai hal kepada banyak pihak. Namun, lantaran harus menyampaikan informasi sesuai dengan kepentingan Sekutu, nuraninya berontak. Apalagi, tidak semua informasi yang disebarluaskan itu benar. Sosrokartono mengundurkan diri. Ia memutuskan berhenti jadi juru bicara.

Baca: Kartono, Orang Jawa yang Jadi Wartawan di Eropa

Tak lama setelah itu, pada 1919, Sosrokartono dipilih menjadi Atase pada kedutaan besar Perancis di ibukota kerajaan Belanda di Den Haag. Ia menjadi satu-satunya orang Jawa yang mendapatkan kedudukan tinggi di kedutaan tersebut.

Ia bertugas melakukan komunikasi dengan banyak pihak mewakili Pemerintah Perancis. Namun lantaran yang dilakukannya bukan untuk mewakili kepentingan bangsa Nusantara yang sedang dijajah Eropa, nurani Kartono kembali berontak. Ia mengundurkan diri sebagai atase kedutaan dan merencanakan pulang ke Tanah Air.

Namun, rencananya pulang ke Indonesia tidak bisa langsung dijalankan. Ia diangkat menjadi juru bahasa di Liga Bangsa-Bangsa yang berkedudukan di kota Genewa Swiss. Di tempat barunya itu, Sosrokartono mulai bergaul dengan diplomat-diplomat dan negarawan-negarawan dari banyak negara di dunia.

Dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa yang kemudian berganti nama jadi Persatuan Bangsa-Bangsa pada 1921 adalah untuk menciptakan perdamaian dunia. Namun, pada kenyataannya tidak begitu. Ada beberapa negara yang mendorong terjadinya perang, dan menjadikan PBB sebagai alat bagi negara-negara kuat untuk menguasai dunia.

Lagi-lagi, nurani Sosrokartono berontak. Kendati jabatannya sudah mapan, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai penerjemah di PBB. Setelah lama mengembara di negara-negara Eropa, Sosrokartono akhirnya pulang ke Tanah Air pada 1925.

Setelah menemui ibu dan saudara-saudaranya, termasuk ziarah ke makam ayahnya dan Kartini, Sosrokartono memutuskan tinggal di Bandung. Salah satu aktivitas yang dilakukannya di Kota Kembang itu adalah membuka Daroes Salam atau rumah yang damai. Di tempat itu, Sosrokartono menapaki jalan spiritual dan membuka praktik pengobatan.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 15 March 2023 15:16:35

Admin

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (11)

Koropak.co.id - Kartono bisa jadi kalah tenar oleh Kartini. Kendati keduanya merupakan kakak adik kandung, namun nama Kartini lebih familiar di masyarakat. Padahal, sepak terjang Kartono tak kalah memukau.

Kakak kandung Raden Ajeng Kartini itu diketahui menguasai puluhan bahasa asing dan menjadi wartawan kala perang dunia pertama berkecamuk. Dia memang bukan sembarang orang. Nama lengkapnya adalah Raden Mas Panji Sosrokartono.

Lahir pada 10 April 1877 di Mayong Jepara, Raden Mas Panji Sosrokartono merupakan anak ketiga dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara periode 1880 s.d. 1905. Dari pernikahan dengan istri keduanya, Ngasirah, bupati Sosroningrat punya delapan anak, dua di antaranya adalah Kartono dan Kartini.

Dalam tesis Minanur Rohman Mahrus Maulana yang ditulis pada 2017 dijelaskan, selain berasal dari keluarga bangsawan, Sosrokartono juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Pada usia delapan tahun, ia masuk sekolah rendah Belanda bernama ELS di Jepara.

Sebenarnya, sekolah tersebut khusus untuk anak-anak keturunan Belanda dan ada kuota terbatas untuk anak-anak bangsawan. Sosrokartono adalah salah satunya.

Tujuh tahun menimba ilmu di ELS, ia lulus dengan nilai bahasa Belanda yang baik, sehingga bisa melanjutkan sekolah di Hogere Burger School (HBS) di Semarang. Waktu itu HBS hanya ada di tiga tempat, yaitu di Batavia, Surabaya, dan Semarang. Sosrokartono beruntung bisa sekolah di sana.

Apalagi, selama sekolah di HBS Semarang, ia tinggal di keluarga Belanda, sehingga bisa belajar banyak hal, mulai menambah kekayaan khazanah bahasa hingga memahami cara hidup orang Belanda.

Setelah lima tahun sekolah di HBS Semarang, pada 1897 Sosrokartono lulus dengan nilai yang memuaskan. Karangannya dalam bahasa Jerman mendapat apresiasi bagus, bahkan melebihi siswa lain yang merupakan anak-anak Belanda.

Kecerdasan Sosrokartono membuat decak kagum banyak orang. Ia lantas disarankan untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Semula pihak keluarga keberatan, namun akhirnya ia diizinkan berangkat ke sana saat usianya masih 20 tahunan.

Salah satu orang yang mendorongnya kuliah di Belanda adalah Ir. Heyning, seorang insinyur berkebangsaan Belanda. Ia pun menyarankan Sosrokartono untuk masuk Sekolah Tinggi Teknik di Delft Jurusan Pengairan.

Baca: Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Tiga Serangkai Pendiri Organisasi Indische Partij

Saran itu bukan tanpa alasan. Setelah kelak menuntaskan kuliahnya, Sosrokartono diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi pertanian di Jepara, termasuk mengatasi ancaman krisis air yang diperkirakan akan terjadi di wilayah tersebut.

Sosrokartono menuruti saran itu. Ia kuliah di bidang teknik sipil pengairan. Namun, keberadaannya di sana tak bertahan lama. Setelah dijalani, ia merasa kurang cocok dengan jurusan tersebut. Minat belajarnya lebih tertumpu pada sastra.

Setelah dua tahun menimba ilmu di Polytechnische School te Delft, ia memutuskan keluar dan memilih pindah ke Universitas Leiden, masuk Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Pilihannya pada sastra itu sesuai dengan minatnya. Sejak sekolah di HBS Semarang, Sosrokartono memang unggul dalam bidang bahasa dan sastra.

Setelah lulus dari Universitas Leiden pada 1908, Sosrokartono meraih gelar Sarjana Bahasa dan Sastra Timur. Kendati sudah menyelesaikan agenda akademiknya, ia tidak langsung pulang ke Tanah Air. Ia masih ingin menimba pengalaman yang lebih banyak di bumi Eropa.

Salah satu aktivitasnya selama di sana adalah menjadi wartawan The New York Herald. Kemampuannya dalam berbahasa asing menjadi pintu masuk baginya bekerja di surat kabar yang bermarkas di Amerika Serikat itu.

Sosrokartono diketahui menguasai lebih dari 30 bahasa, dan sebagian orang Eropa memberinya julukan Si Jenius dari Timur. Untuk diterima di The New York Herald, ia harus melalui satu tes dengan memadatkan satu tulisan panjang menjadi berita pendek berjumlah kisaran 30 kata.

Berita itu harus ditulis dalam empat bahasa, yaitu Spanyol, Rusia, Perancis, dan Inggris. Sosrokartono berhasil menuntaskan tugas itu, dan membuatnya menjadi 27 kata hingga diterima jadi wartawan. Agar mempunyai akses luas selama liputan di medan perang, ia lantas diberi pangkat mayor.

Salah satu prestasi terbaik Sosrokartono saat menjadi wartawan adalah menyebarluaskan hasil perundingan antara Jerman dan Perancis. Padahal, perundingan itu sifatnya sangat rahasia. Jangankan isi kesepakatan, tempatnya pun sangat tertutup dan tidak banyak orang tahu.

Dalam perundingan yang dilakukan di atas gerbong kereta api itu diketahui bahwa Jerman menyerah kepada Perancis. Tidak dijelaskan dari mana dan bagaimana mendapatkan informasi tersebut, Sosrokartono menyiarkan hasil perundingan tersebut dalam The New York Herald. Lantaran berita itu, nama Sosrokartono semakin melejit dan mendapat apresiasi tinggi dari kalangan jurnalis internasional.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Koropak.co.id, 13 March 2023 15:12:09

Eris Kuswara

Kisah Haji Naim, Ahli Pijat Patah Tulang Legendaris dari Cimande (12)

Koropak.co.id - Sejarah Indonesia tentunya tidak pernah lepas dari perjuangan tokoh-tokoh besar. Salah satunya adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Diketahui, Tjipto Mangoenkoesoemo sendiri merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang berkecimpung di bidang perpolitikan.

Tercatat, ia juga termasuk 3 serangkai yang mendirikan Indische Partij bersama Ernest Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Tjipto Mangoenkoesoemo lahir di Desa Pecangan, Jepara, Karesidenan Semarang, 4 Maret 1888. Ia merupakan anak dari Mangoenkoesoemo, seorang priyayi Jawa yang berkedudukan sebagai guru dan pembantu administrasi pada Dewan Kota Semarang.

Sementara ibunya adalah wanita keturunan dari tuan tanah asal Jepara. Semasa kecilnya, Tjipto Mangoenkoesoemo beserta adik-adiknya memiliki kesempatan untuk bersekolah di STOVIA. Saat masih sekolah, ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, sekaligus rajin. Di sana, ia juga dikenal sebagai orang yang tegas dalam bertindak dan termasuk orang yang berani melawan arus.

Pada 20 Mei 1908, Organisasi Boedi Oetomo terbentuk. Tjipto Mangoenkoesoemo pun menyambut baik berdirinya organisasi tersebut. Bukan tanpa alasan, ia menilai organisasi tersebut merupakan wujud kesadaran pribumi akan identitasnya sendiri.

Meskipun demikian, dalam kongres pertama yang berlangsung di Yogyakarta, terjadi perpecahan antara Tjipto Mangoenkoesoemo dan Radjiman Wedyodiningrat.

Salah satu harapannya kala itu adalah menjadikan Boedi Oetomo sebagai wadah mereka dalam berorganisasi politik yang berjuang secara demokratis dan terbuka bagi masyarakat Indonesia. Sedangkan Radjiman sendiri menginginkan organisasi Boedi Oetomo sebagai gerakan kebudayaan yang bersifat Jawa sentris.

Meskipun ia diangkat menjadi pengurus Boedi Oetomo, namun Tjipto Mangoenkoesoemo pada akhirnya mengundurkan diri dari organisasi tersebut. Ia beranggapan bahwa organisasi itu tidak mewakili aspirasinya. Pasalnya ia sendiri selalu ingin bahwa ada jalan bagi timbulnya persatuan di antara seluruh rakyat di Hindia Belanda, dan tidak hanya fokus pada masyarakat Jawa.

Setelah mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, ia kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai dokter di Solo. Namun di sela-sela kesibukannya, ia juga mendirikan organisasi Raden Ajeng Kartini Klub.

Organisasi tersebut bergerak di bidang sosial dan peduli dengan kesejahteraan nasib rakyat. Kemudian pada 1912, ia mendirikan Indische Partij bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat.

Baca: Mengenal Siti Walidah, Sang Fajar yang Terbit dari Muhammadiyah

Baginya, gerakan yang baru didirikannya itu merupakan upaya mulia mewakili kepentingan-kepentingan semua penduduk Hindia Belanda yang tidak memandang suku, golongan, dan agama apapun. Indische Partij juga merupakan gerakan politik untuk seluruh rakyat Hindia Belanda.

Diketahui juga bahwa Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker adalah sahabat karib yang sangat dekat. Bahkan pada 1912, Tjipto Mangoenkoesoemo pindah ke Bandung agar lebih dekat dengan sahabatnya tersebut. Ia kemudian menjadi anggota redaksi penerbitan harian de Express dan majalah het Tijdschrift.

Ia juga mendirikan sebuah komite yang diberi nama Komite Bumi Putra dan di komite itu ia menjadi ketuanya. Komite tersebut juga pernah menerbitkan sebuah artikel Suwardi Suryaningrat yang berjudul "Andaikan Saya Seorang Belanda". Tak hanya itu saja, ia juga menuliskan dukungannya terhadap Suwardi untuk memboikot perayaan kemerdekaan Belanda.

Tulisannya dan Suwardi berhasil memukul pemerintah, sehingga pada 30 Juli 1913, ia dan Suwardi dipenjarakan. Pada 1913 juga, keluar surat keputusan untuk membuang Tjipto Mangoenkoesoemo bersama dengan Suwardi dan Douwes Dekker ke Belanda dikarenakan kegiatan propagandanya dalam Komite Bumi Putra.

Setahun kemudian atau tepatnya pada 1914, Tjipto Mangoenkoesoemo pulang ke Jawa dan kembali berjuang. Oleh karena itulah ia kemudian diasingkan pada 15 Oktober 1920 di daerah yang tidak berbahasa Jawa. Pada 19 Desember 1927, ia selanjutnya dibuang ke Banda, Maluku.

Dalam pembuangannya itu, penyakit asma yang dideritanya kambuh. Meskipun beberapa orang memintanya untuk pulang ke Jawa, ia justru menolak hingga pada akhirnya dialihkan ke Bali, Makassar. Selanjutnya pada 1940 ia dipindahkan ke Sukabumi. Ia juga kemudian meninggal pada 8 Maret 1943 akibat penyakit asma yang dideritanya.

(Video) Pengobatan Patah Tulang H. Naim | Urut Keseleo, Terkilir, Patah Tulang | Urut Tradisional Cimande

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Videos

1. NGERIII‼️LENGAN SAMPAI BENGKOK⁉️| OMAN HOUSE URUT PATAH TULANG
(OMAN HOUSE)
2. UKM Tangsel : Vlog Nita @ Haji Naim tempat urut patah tulang dan keseleo
(D'Poer Nita)
3. Ilmu Dayak Kalimantan, Sekali urut Jari Bengk0k Tahunan jadi Lurus Kembali | Ibu Ida
(VLOGGER INDRAMAYU)
4. Patah Tulang Kering kaki di Terapi awal oleh Pengobatan H. Sulaiman Ulem Nagrak gimana tempatnya
(Wawan RUQYAH)
5. Urut patah tulang , Sekali urut lansung jalan.
(RAR Sutan Batuah.)
6. BOCAH JATUH LENGANNYA BENGKOK
(Haji Naim Official)
Top Articles
Latest Posts
Article information

Author: Manual Maggio

Last Updated: 22/04/2023

Views: 5683

Rating: 4.9 / 5 (69 voted)

Reviews: 84% of readers found this page helpful

Author information

Name: Manual Maggio

Birthday: 1998-01-20

Address: 359 Kelvin Stream, Lake Eldonview, MT 33517-1242

Phone: +577037762465

Job: Product Hospitality Supervisor

Hobby: Gardening, Web surfing, Video gaming, Amateur radio, Flag Football, Reading, Table tennis

Introduction: My name is Manual Maggio, I am a thankful, tender, adventurous, delightful, fantastic, proud, graceful person who loves writing and wants to share my knowledge and understanding with you.